Ketika aktivitas tambang berakhir, ada masalah baru muncul (bukan soal pengelolaan limbah), tetapi bagaimana proses reklamasi lahan bekas tambang dapat dilakukan secara terarah dan berkelanjutan.
Proses ini akan memulihkan bentuk permukaan tanah dan juga memulihkan fungsi ekologis dan sosial dari area yang telah rusak. Meskipun nampaknya sederhana, namun faktanya reklamasi memerlukan strategi matang.
Oleh sebab itu, penting untuk memahami setiap tahapan yang ada, termasuk pemilihan vegetasi penutup, analisis media tanam, hingga pemantauan pasca revegetasi.
1. Identifikasi Kerusakan dan Potensi Lahan
Sebaiknya, sebelum Anda melangkah lebih jauh, tentu tahapan awal dalam reklamasi tanah bekas tambang yakni identifikasi kerusakan tanah dahulu. Hal ini mencakup:
- Tingkat erosi
- Kedalaman tanah produktif
- Kandungan bahan organik
- pH tanah dan kandungan logam berat
Selain itu, karakteristik iklim lokal seperti curah hujan dan suhu juga menjadi faktor penentu dalam menentukan jenis tanaman revegetasi.
2. Teknik Reklamasi
Berikut ini kombinasi pendekatan umum dalam praktik reklamasi:
1. Reklamasi Fisik
Meliputi pengurugan, perataan kontur tanah, dan pembangunan drainase.
2. Reklamasi Biologis
Melibatkan penanaman tanaman cover crop atau pionir untuk memperbaiki tanah.
Kombinasi keduanya terbukti efektif mengurangi sedimentasi, memperbaiki struktur tanah, serta mempercepat regenerasi vegetasi alami.
3. Jenis Tanaman untuk Reklamasi Lahan Tambang
Berikut beberapa jenis tanaman yang digunakan dalam reklamasi lahan bekas tambang karena daya adaptasi dan manfaat ekologisnya:
a. Tanaman Cover Crop (Legume Penutup Tanah)
Cover crop digunakan untuk menahan erosi, memperbaiki struktur tanah, serta menambahkan nitrogen secara alami. Jenis-jenis yang umum dipakai antara lain:
- Mucuna cochinchinensis
- Calopogonium mucunoides
- Centrosema pubescens
- Pueraria javanica (PJ)
- Crotalaria juncea (CRY)
- Stylosanthes guianensis
- Desmodium spp.
- Arachis pintoi
Penilaian Keberhasilan Reklamasi
Untuk mengukur keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang, perlu dilakukan monitoring terhadap beberapa parameter, seperti:
- Persentase tutupan vegetasi
- Jumlah spesies tumbuhan lokal yang kembali muncul
- Stabilitas kontur tanah
- Kandungan C-organik dan pH tanah
Biasanya evaluasi dilakukan tiap 6 bulan selama minimal 3 tahun untuk memastikan keberlanjutan restorasi.
Contoh Praktik Reklamasi Berhasil
Beberapa contoh reklamasi sukses di Indonesia melibatkan integrasi antara cover crop dan tanaman kehutanan seperti sengon, kaliandra, dan akasia. Biasanya, perusahaan menyiapkan area uji coba untuk menentukan jenis kombinasi tanaman terbaik sebelum direplikasi ke area luas.
Berikut model kombinasi yang sering digunakan:
Zona lereng menggunakan tanaman penutup Centrosema dan Mucuna. Tanaman pohon bisa menggunakan tumbuhan Sengon. Kemudian, zona data menggunakan tanaman penutup Pueraria atau CRY, kalau tanaman pohon menggunakan Akasia.
Terakhir, jika bekas tambang Anda itu rawa atau tanah miring, sebaiknya menggunakan tanaman penutup jenis Arachis atau Stylosanthes dan tanaman pohonnya paling cocok menggunakan Kaliandra.
Wujudkan Reklamasi Tambang Berkualitas dengan Pilihan Bibit Tepat
Oleh karena itu, pemulihan lahan pasca tambang tidak cukup hanya dengan menutup lubang bekas galian atau meratakan kontur tanah. Namun, langkah yang paling berdampak justru terletak pada pemilihan jenis tanaman penutup tanah (cover crop) yang adaptif, cepat tumbuh, dan mampu memperbaiki kualitas tanah. Dengan mempertimbangkan jenis-jenis seperti Mucuna cochinchinensis, Calopogonium mucunoides, hingga Arachis pintoi, maka proses revegetasi akan jauh lebih efektif dan berkelanjutan.
Selanjutnya, agar Anda tidak salah langkah dalam menentukan benih yang sesuai untuk kebutuhan reklamasi tambang, pastikan Anda mendapatkannya dari penyedia terpercaya. Salah satu pilihan yang direkomendasikan adalah rajabenih.id, platform benih berkualitas yang siap membantu Anda memulihkan ekosistem tambang secara profesional.